.jpg)
Author: Abu Aufa
Duk… duk…!!!
Ia membenturkan kepalanya berulang kali di lantai
sebuah swalayan. Tubuhnya yang terlentang tampak
tegang, nafasnya tersengal-sengal dengan wajah merah
menahan marah. Beberapa orang berusaha membujuk, tapi
sia-sia, ia terus mengamuk. Gigi mengatup, menggeretak
dan dengan geram diayunkannya kaki serta tangan ke
segala arah. Baginya, selain orang terdekat dan
tersayang, semua adalah ancaman yang mengusik
dunianya.
Bergegas seorang wanita menghampiri dan segera
membujuk. Tubuh itu didekapnya, seraya membelai lembut
buah hati tercinta. Namun anak laki-laki itu masih
mencoba meronta, bahkan dicengkramnya tangan ibunda
dengan kuat. Wanita itu meringis kesakitan, tapi
pelukannya tak dilepaskan. Lalu sang ibunda
membisikkan beberapa patah kata, dan perlahan
amukannya mereda.
Anak itu duduk terhenyak. Matanya sejenak menatap
binar cinta dari ibunda. Namun tak lama, bola mata itu
pun berpindah ke sudut mata, dan menatap pojok ruangan
dengan pandangan hampa. Terdengar ia bergumam tak
jelas, dan digoyangkan tubuhnya ke depan serta ke
belakang berulang-ulang. Asyik berbicara dan bermain
dengan sahabat-sahabat di dunianya.
Tak urung tetesan bening jatuh dari telaga mata wanita
yang berwajah teduh tersebut. Ajaib, bola mata anak
lelaki itu tiba-tiba beralih menatap wajah ibundanya
kembali. Lalu dengan susah payah tangannya menyentuh,
dan jari telunjuk menyeka air mata yang membasahi
pipi.
Terhempas…
Jiwaku serasa dihempaskan ke dasar jurang oleh sebuah
kenyataan. Mereka ada, dan nyata di sekitar kita.
Dunia mereka memang terselubung kabut tebal,
memisahkan raga yang tampak jelas di depan mata, namun
jiwanya terbang entah kemana. Melayang, meninggalkan
dunia nyata, lalu bermain dengan ilusi dan fantasi di
alam khayal.
Mereka pun terbuai dan terlelap di lain dunia.
Dininabobokkan bidadari-bidadari yang baik hati
membuatnya jatuh hati, lalu lupa dengan ayah bunda,
saudara, teman serta raga yang teronggok di alam
nyata. Bahkan diacuhkannya kegembiraan membuat burung
dari lipatan kertas, bermain bola, berlarian di tanah
lapang, atau pun sekedar bertepuk tangan.
Namun, bukankah tak ada satu pun ciptaan Allah
Subhanahu wa Ta’ala di alam ini yang sia-sia. Di balik
kekurangan dirinya, pasti ada keistimewaan. Mereka
pasti diciptakan sebagai bagian dari sebuah rencana
indah untuk orang-orang terdekat dan mengenalinya.
Dengan kehadiran mereka, akan terbentang luas ladang
pahala yang siap untuk disemai.
Kehadiran mereka pun membuat ketakjuban akan ajaibnya
do’a dan cinta seorang ibunda. Beberapa patah kata
yang lahir dari bening hati seorang ibunda selalu
sejuk dan teduh, menyimpan berjuta kasih sayang serta
cinta. Layaknya sebuah mantera yang sakti mandraguna,
mampu membangunkan buah hati dari tidur lelap di lain
dunia.
Kiat di buku-buku, majalah dan artikel ilmiah seakan
sia-sia untuk mengusik dunianya. Dekapan yang erat dan
kencang pun tak mampu meredakan amukan mereka. Bahkan,
ucapan para ahli yang disarankan sulit membuat mereka
sedikitpun beranjak. Hanya sebentuk do’a yang
mustajabah dari ibunda, tak ada hijab kepada yang Maha
Menyembuhkan.
Indah…
Sungguh teramat indah setiap rencana dan ciptaan-Mu,
duhai Allah.
Kau berikan amanah istimewa hanya kepada hamba-Mu yang
istimewa pula, dan dari mereka aku rengkuh seribu satu
hikmah.
No related posts.

Oh Ibu……