Advertisement
Mempelajari Al-Quran menjadi kewajiban setiap muslim yang meyakini bahwa Al-Quran adalah pedoman hidupnya, bagaimana bisa jadi pedoman kalau isinya saja tidak tahu. Namun sering menjadi kendala untuk mempelajari Al-Qur’an terutama bagi anak-anak adalah karena sulit, monoton, dan tidak menariknya proses belajar Al-Quran.
I Love My Al-Quran dirancang untuk mengatasi masalah ini, membuat belajar Al-Qur’an jadi lebih menyenangkan. Buku ini membantu kita dan anak-anak dalam membaca serta memahami isi kandungan Al Quran. Dengan tampilan yg menarik, gambar-gambar menarik seperti ilustrasi yang berkaitan dengan pembahasan ayat dalam Al-Quran. InsyaAllah anak betah berlama-lama baca buku ini. Kemudian bisa mendapatkan banyak pengetahuan dengan cara yang unik. Belajar kosa kata dalam Al-Quran, tajwidnya, dan info tambahan menarik lainnya.

Pengenalan Al-Quran kepada anak-anak merupakan bagian penting dari upaya mendekatkan umat pada sumber ajaran agama yang dipeluknya. Apalagi di saat moralitas keagamaan cenderung terkikis saat ini. Tentu saja, pengenalan Al-Quran kepada anak-anak mesti disesuaikan dengan tingkat nalar dan alam pikiran mereka, sehingga memerlukan pendekatan atau metode tersendiri. Salah satu metode tersebut berusaha ditawarkan oleh penerbit Pelangi Mizan, sebagaimana terlihat dalam buku I Love My Al-Quran ini. Setidaknya, buku ini dapat merangsang anak-anak untuk mempelajari Al-Quran secara lebih menarik dan menyenangkan.
KH. A. Hasyim Muzadi, Ketua Umum PB NU
Dengan buku ini, orangtua lebih mudah memperkenalkan Al-Quran dengan segala nilai dan ajaran yang terkandung di dalamnya kepada putra-putrinya. Melalui pendekatan khusus, mengunakan bahasa yang insya Allah lebih mudah dicerna dan dipahami oleh mereka.
KH. Shidiq Amien, Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis)
Advertisement
Buku ILMA yang diterbitkan kelompok Mizan ini, sebuah inovasi. Sebuah usaha kreatif untuk mendekatkan keluarga muslim pada kitab sucinya. Buku ini tampil dengan bahasa warna dan gambar yang merupakan medium efektif untuk berkomunikasi dengan anak.
Prof. Dr. Dien Syamsudin, Ketua Umum PP Muhammadiyah
Ada dua jenis buku anak yang sangat saya impikan. Pertama, jenis buku yang saya sebut dengan “khutbah untuk anak”. Sebuah buku yang menggerakkan jiwa dengan nilai-nilai spiritual Islam, tetapi tidak menggurui. Kedua, jenis buku yang menunjukkan, bukan mengatakan, kepada anak bahwa Al-Quran adalah petunjuk hidup, bukan sekadar bacaan. Saya bersyukur, Pelangi Mizan menghadirkan buku yang tidak hanya menunjukkan kehebatan Al-Quran. Lebih dari itu, I Love My Al-Quran menyajikan Al-Quran dalam wajah yang bersahabat dengan anak, lengkap dengan “tafsir”-nya. Sebuah langkah cerdas untuk mendekatkan anak pada Al-Quran dan mengantarkan mereka menjadi generasi Qurani.
M. Fauzhil Adhim, Penulis
Kreativitas adalah inti kebudayaan. Tanpa kreativitas, budaya mandek. I Love My Al-Quran (ILMA) adalah salah satu bentuk kreativitas untuk mengenal dan mencintai Al-Quran sejak dini. Semoga dengan ILMA ini, umat Islam semakin mencintai Al-Quran sebagai sumber inspirasi untuk berkreasi.
Acil Bimbo, Musisi
Saya menilai produk ini sangat bagus dan kreatif. Ini proyek besar insya Allah berkah. Penuh ilustrasi dan warna-warni, tapi berbeda dengan komik-komik hiburan. Saya yakin, buku ini bisa membuat anak semakin cinta pada Al-Quran. Asal, dalam penyajian ilustrasinya tidak mengurangi “kesakralan” Al-Quran.
Habib M. Rizieq Syihab, Ketua umum FPI
Para tokoh tersebut sudah mengakui kehebatan I Love My Al-Quran
Tunggu apalagi ? Buruan order sekarang juga…!!
- 15 Jilid Mushaf Al-Qur’an.
- 15 Jilid Tafsir dan Terjemah + Hikmah Ayat.
- Kamus Kata-kata Unik di al-Qur’an.
- CD Audio 16 Lagu Terjemah Surat-surat Pendek.
- Buku Teks Lagu
- Papan Permainan.

Mengajak anak membaca Al-Qur’an dengan menyenangkan, karena halaman-halaman Al-Qur’an disajikandengan penuh warna dan dibantu dengan visualisasi yang menarik.
HIKMAH ayat yang ditulis di bagian samping mushaf mengangkat makna global dari ayat yang sedang dibaca. Pembahasannya sangat dekat dengan kehidupan anak dengan bahasa yang sangat komunikatif bagi anak.
Anak dapat memperluas wawasan mengenai berbagai informasi tambahan berkaitan dengan ayat yang dibaca di box KAMU PERLU TAHU. Informasi tambahan itu bisa berupa Peta, Peristiwa sejarah, Pengetahuan ilmiah.
Box LIHAT JUGA berisi informasi rujuk silang, dimana anak dapat mengetahui korelasi satu ayat dengan ayat lainnya atau satu ayat dengan sumber lain.
Khusus untuk orang tua disediakan box UNTUK AYAH-IBU. Berisi informasi tambahan yang perlu diketahui ayah-ibu dalam mendampingi putra-putrinya ketika membaca I Love My Al-Qur’an.
Hukum tajwid diperkenalkan secara bertahap dan berorientasi pada praktik melalui box RAMBU BACA.Hukum tajwid pada box ini langsung diaplikasikan pada halaman bersangkutan dengan memberi warna khusus pada teks yang mengandung hukum tajwid yang sedang dijelaskan.
Box KOSAKATA memperkenalkan anak pada kosakata Al-Qur’an secara bertahap. Kosakata yang dipilih merupakan kata kunci pada pembahasan ayat di halaman bersangkutan.
Cover : Ukuran 21,5 cm x 28,5 cm. Jenis Kertas AP 150 gr. Hard Cover.
Isi : Ukuran 21 cm x 27,5 cm. Jenis Kertas AP 180 gr. 44 Halaman.
Mengajak anak berkenalan dengan kata-kata unik dalam Al-Qur’an. Kata-kata itu ada yang berhubungan dengan benda langit, binatang, tempat sejarah, tumbuhan, orang penting dan masih banyak lagi.
Cakupannya:
1.Kata di Al-Quran,
2.Terjemahan dalam bahasa Inggris,
3.Terjemahan dalam bahasa Indonesia,
4.Contoh ayat yang ada kata tersebut
5.Jumlah kata tersebut di dalam Al-Quran.
Arti kata-kata itu akan ditemukan dalam bahasa Indonesia (3) dan bahasa Inggris (2) yang disajikan dengan gambar. Akan ditemukan juga berapa banyak kata itu ditulis dalam Al-Qur’an (5) dan contoh ayat dimana kata itu bisa ditemukan
Cover : Ukuran 21,5 cm x 28,5 cm. Jenis Kertas AP 150 gr. Hardcover. Finishing doff.
Isi : Ukuran 21 cm x 27,5 cm. Jenis Kertas MP 150 gr. 88 Halaman.
CD Audio 16 Lagu Terjemah Surat-surat Pendek + Buku Teks Lagu-lagu
I Love My Al-Qur’an memudahkan anak menghafal kandungan ayat 16 surat pendek secara cepat dan menyenangkan melalui CD lagu-lagu yang dilengkapi buku lagu. Lagu-lagu ini sebenarnya terjemahan surah-surah pendek Al-Quran yang diberi nada dan diiringi musik. Lagu-lagu ini bisa membantu kita belajar memahami makna surah-surah pendek Al-Quran dengan lebih mudah. Lagu-lagu di Yuk, Nyanyikan Terjemah Al-Quran sangat beragam, Ada alunan musik padang pasir, gaya Gipsy, hingga musik ceria dari Skotlandia
BUKU LAGU
Cover : Ukuran 12 cm x 12 cm. Jenis Kertas AP 210 gr. Finishing doff
Isi : Ukuran 12 cm x 12 cm. Jenis Kertas MP 150 gr. 24 Halaman
CD – Jenis CD : Silver. 16 Track. Durasi 34 Menit
DAFTAR LAGU:
I Love My Al-Quran—1, Al-Fiil—2, Al-Qadr—3,
Al-Kautsar—4, An-Naas—5, Al-Falaq—6, Al-Ikhlaash—7,
An-Nashr—8, Al-’Ashr—9, Al-Humazah—10, At-Tiin—11,
Al-Insyiraah—12, Adh-Dhuhaa—13, Al-Kaafiruun—14,
Al-Lahab—15, At-Takaatsur—16.

Anak dapat mengenal dan menghafal 114 nama surat beserta data seputar surat itu. Meliputi nama surat, arti nama surat, jumlah ayat, serta makkiyyah-madaniyyah-nya. Melalui permainan ular tangga yang mengasyikkan.
Ukuran : 55 cm x 42 cm. Jenis Kertas : Magnetic Board.
Berikan Yang Terbaik Untuk Buah Hati Anda
Belajar Al-Quran dengan ILMA, Hadiah Terbaik Untuk Masa DepanSang Buah Hati
Dapatkan ILMA dengan Harga Terbaik
Rp. 3.400.000
Rp. 2.720.000
disc. 20% untuk pembayaran tunai
Pembelian dari kota-kota berikut
Jakarta, Bogor, Bandung, Serang, Banten, Surabaya, Malang, Semarang, Solo, Yogya, Magelang
Gratis ongkos kirim, Pembayaran bisa dilakukan di rumah (COD Cash on Delivery) juga ada pilihan pembayaran secara angsuran hingga 12 bulan
Pembelian selain dari kota-kota tersebut diatas akan dibebankan tambahan ongkos kirim dan hanya bisa dilakukan dengan transfer tunai.
Info Lebih Lanjut silahkan Hubungi kami Klik disini…!!!

Sangat pantas kalau setiap Muslim, baik dewasa maupun anak-anak menyatakan: “I Love My Al-Quran!” Bukankah kecintaan pada Al-Quran perlu dipupuk dan dibina sejak kanak-kanak, saat jiwa manusia masih bersih?
Prof. Dr. H. Rif’at Syauqi Nawawi, M.A.
Gagasan mengenai anak yang sejak usia dini sudah mendapat pelajaran Al-Quran yang disertai gambar-gambar sangatlah menarik. Sebab, gambar-gambar tersebut lebih mengasyikkan, mudah diserap, dan melekat dalam ingatan anak.
Ali Audah, Penerjemah The Holy Quran
Saat ini, banyak orangtua yang menyadari betapa pentingnya menanamkan nilai-nilai Al-Quran pada anak-anak. Namun, banyak orangtua yang bingung: “Bagaimana caranya?” Hadiahkan saja I Love My Al-Quran untuk anak-anak kita! Insya Allah, mereka akan akrab dengan Al-Quran. Semoga dengan ikhtiar ini, mereka menjadi anak-anak yang saleh, cerdas, dan mampu menghadapi tantangan zamannya.
Aam Amirudin M.Si, Penulis Tafsir Kontemporer Juz ‘Amma
Gaya bahasanya “gaul”, sederhana, gampang dipahami oleh anak-anak, informatif, bersahabat, interaktif, sehingga tanpa serasa, anak-anak bisa memahaminya dengan penuh ceria.
Dr. H. Ahsin Sakho Muhammad, MA
Al-Quran dikemas dalam tampilan segar, agak kekanak-kanakan sesuai alam pikiran mereka. Dihiasi warna-warni ceria dan gambar-gambar ilustratif yang imajinatif. Diharapkan anak-anak membacanya dengan rileks dan gembira.
Ir. H. Bambang Pranggono MBA, penulis Percikan Sains dalam Al-Quran
Menariknya lagi, buku ini ditujukan kepada generasi paling awal, kepada anak-anak, dengan metode yang dianggap sesuai dengan tingkat pemikiran mereka. Dengan buku ini kaum orangtua yang peduli, akan melakukan bimbingan kepada putra-putri mereka dan-siapa tahu- sekaligus mendapatkan bimbingan dari buku ini.
KH. A. Mustofa Bisri, Tokoh Ulama NU
I Love My Al-Quran merupakan salah satu cara yang unik lagi mutakhir yang kami duga keras akan sesuai dengan selera anak, sehingga akan mampu mendekatkan Al-Quran ke benak hati mereka.
Prof. Dr. M. Quraish Shihab, penulis Tafsir Al-Mishbah
Yang menarik dari buku ini adalah kemampuannya mengenalkan, mengajarkan, serta menanamkan pesan-pesan maupun ajaran-ajaran Al-Quran secara komunikatif, mengalir, dan tidak membosankan sehingga mudah diikuti dan dicerna pembacanya. Hal lain yang patut diapresiasi adalah kreativitasnya menyajikan kandungan ayat-ayat Al-Quran dengan pendekatan komikal, baik dari segi gaya dialog maupun ilustrasi gambar yang menarik perhatian dan mudah diingat, sehingga terkesan tidak menggurui.
Prof. Dr. A. Syafii Maarif, Tokoh Muhammadiyah
Di tengah upaya gigih kaum sekulerisme, liberalisme dan pluralisme memisahkan umat dari Al-Quran, kehadiran I Love My Al-Quran diharapkan dapat mengilhami lahirnya generasi Qurani yang tidak hanya membaca, tapi juga berupaya memahami, menghayati, serta mengamalkan Al-Quran.
KH. Athian Ali Muhammad Da’i, Lc., M.A. Ketua Forum Ulama Umat Islam
Buku I Love My Al-Quran adalah salah satu dari sedikit sajian yang akan mendorong para pembacanya bergerak bersama menyambut kelahiran “the living Quran” baru.
KH. Dr. Miftah Faridl
Saya lihat di dalam ILMA mencakup pendidikan IQ, EQ, dan SQ yang sangat dibutuhkan oleh anakanak dewasa ini. Selain itu, kebutuhan seorang anak yaitu belajar dan bermain diperoleh secara bersamaan.
Prof. Dr. H. Salim Basalamah, SE, Guru Besar Universitas Muslim Indonesia Makasar
Saya menyambut baik penerbitan ILMA ini karena akan menumbuhkan kecintaan anak-anak pada Al-Quran. Dengan kecintaan itu diharapkan mereka mau membaca, mempelajari, memahami, dan mengamalkan Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari.
KH. Didin Hafidudin
I Love My Al-Quran, yang diterbitkan oleh Pelangi Mizan, ingin membantu para orangtua di zaman sekarang dalam membawa putra-putri mereka, sejak dini, ke dalam naungan Al-Quran. I Love My Al-Quran dirancang untuk dapat diakses dengan sangat mudah dan menyenangkan oleh anak-anak.
I Love My Al-Quran dilengkapi dengan pelbagai sarana yang membuat Al-Quran tidak sekadar dibaca (atau dihafal), melainkan dihayati dan dimaknai sehingga nilai-nilai yang dikandung Al-Quran dapat meresap di hati dan menggerakkan nalar anak-anak.
I Love My Al-Quran, mengajak buah hati anda untuk belajar Al-Quran dengan cara asyik nan menyenangkan. Produk ini membantu mengembangkan kecerdasan majemuk mereka. Sebab, I Love My Al-Quran menyampaikan pesan-pesan melalui bahasa visual yang sangat menarik dan bahasa teks untuk anak yang sangat komunikatif.
Dapatkan ILMA dengan Harga Terbaik
Rp. 3.400.000
Rp. 2.720.000
disc. 20% untuk pembayaran tunai
Pembelian dari kota-kota berikut
Jakarta, Bogor, Bandung, Serang, Banten, Surabaya, Malang, Semarang, Solo, Yogya, Magelang
Gratis ongkos kirim, Pembayaran bisa dilakukan di rumah (COD Cash on Delivery) juga ada pilihan pembayaran secara angsuran hingga 12 bulan
Pembelian selain dari kota-kota tersebut diatas akan dibebankan tambahan ongkos kirim dan hanya bisa dilakukan dengan transfer tunai.
Info Lebih Lanjut silahkan Hubungi kami Klik disini…!!!
Galeri ILMA


















Pengantar Editor ILMA
ILMA: Sebuah Upaya Memuliakan Al-Quran dengan Mendorong Anak Islam Mencintai dan Mempelajarinya.
Irfan AmaLee (Editor Kepala ILMA)
Tulisan ini disusun untuk menjelaskan konsep yang melatarbelakangi penerbitan ILMA (I Love My Al-Quran) sekaligus merekam semua proses yang dilaluinya, meliputi studi literatur, riset kecil, FGD dengan masyarakat, dan (yang tidak kalah penting) konsultasi dengan sejumlah ulama. Dengan tulisan ini, diharapkan masyarakat bisa melihat ILMA dengan perspektif yang lebih komprehensif.
Mengapa ilma Mendesak untuk Diterbitkan?
Penerbitan ilma ini dilatarbelakangi oleh riset kecil, mendengar kebutuhan masyarakat, serta mengamati kondisi masyarakat kini. Tidak bisa kita pungkiri bahwa generasi muda kita diserang sejumlah media yang SANGAT MENARIK seperti film (VCD, DVD) game-game komputer, playstation, komik, dan sebagainya. Itu artinya, anak-anak kita akan semakin tidak tertarik untuk memberi perhatian kepada Al-Quran jika kita tidak melakukan sesuatu agar mereka tertarik mempelajari kitab sucinya.
Kekhawatiran kami persis dengan apa yang dirasakan oleh K.H. A. Mustofa Bisri. Ketika kami meminta pendapatnya tentang penerbitan ILMA, beliau menulis sebagai berikut:
“Hampir semua rumah orang Islam menyimpan Al-Quran dan kita tahu banyak sekali orang Islam yang membacanya. Di negeri kita ini saja, banyak sekali hamilul Quran, orang yang hafal Al-Quran. Yang kita tidak tahu persis di negeri kita sendiri yang mayoritas Islam ini, berapa orangkah yang memahami kandungan Al-Quran? Saya sendiri menanti lembaga seperti MUI mengadakan survei semacam ini…saya pikir ini jauh lebih penting daripada sekadar mengurus label halal. Kita tidak bisa terus-menerus hanya membanggakan diri memiliki pedoman yang hebat, paripurna, tanpa secara serius memikirkan bagaimana memberdayakan pedoman itu. Nah, berkaitan dengan itu, saya ikut bersyukur atas prakarsa penerbitan buku ILMA ini. Kita tidak usah menunggu ada lembaga yang melakukan survei. Kita sebagai pemilik Al-Quran mesti melakukan apa yang bisa kita lakukan bagi tujuan utama memasyarakatkan pemahaman, penghayatan, dan pengamalan Al-Quran itu.” (K.H. A. Mustofa Bisri)
ILMA Menggunakan Bahasa Visual dan Bahasa Anak
Untuk meng-counter serangan media-media tersebut, kita tidak mungkin tetap menggunakan “bahasa lama” dalam menyajikan ajaran Al-Quran kepada anak-anak. Tidaklah tepat kiranya, jika kita ingin membuat anak-anak mencintai Al-Quran, tapi bahasa yang kita gunakan bukanlah bahasa mereka. Al-Quran memerintahkan kita untuk menyampaikan pesan-pesan Allah kepada audiens “MENGGUNAKAN BAHASA KAUMNYA” atau “sesuai dengan tingkat pemikiran mereka” (Biqadri ‘uqulihim). Li kulli maqam, maqal; wa likulli maqal, maqam.
Gambar, warna, adalah bahasa anak-anak yang universal. Gambar di sini adalah “bahasa” (sebagaimana bentuk bahasa lain, seperti bahasa verbal atau bahasa isyarat) yang kita gunakan untuk menyampaikan pesan-pesan Al-Quran sesuai dunia anak.
Dengan pertimbangan itulah kami memutuskan ILMA ini dilengkapi/dihiasi dengan bahasa visual sebagai salah satu media yang akrab dan menarik bagi anak-anak.
Pendapat Para Ulama tentang Cara Penyajian ILMA
Sejak awal, kami sadar bahwa penggunaan gambar di sini bisa menimbulkan sejumlah pertanyaan. Karena itulah kami melakukan riset kecil seputar jenis gambar apa yang akan digunakan dan bagaimana peletakan gambar itu dalam hubungannya dengan mushaf (akan kami jelaskan pada bagian khusus). Kami juga berkonsultasi dengan sejumlah ulama untuk memastikan bahwa penggunaan gambar ini adalah sebuah upaya yang sah (secara syariat) dalam usaha membuat anak-anak kita mencintai Al-Quran. Menanggapi perihal gambar ini, Dewan Pakar Pusat Studi Quran yang dipimpin Ust. Quraish Shihab memberi tanggapan sebagai berikut:
“Penampilan gambar-gambar dalam ILMA ini pun mendapat perhatian pakar, yang pada akhirnya dapat diterima selama kesakralan Al-Quran terpelihara, apalagi gambar yang ditampilkan hanyalah ilustrasi dan tidak ada juga yang merujuk ke tokoh-tokoh suci. Bukan menganalogikan, tetapi jiwa dari pembenaran tersebut sejalan dengan izin rasul memberi boneka pada anak-anak kecil, padahal untuk orang dewasa shurah (patung) pada masa itu beliau larang.”
Tentang fungsi gambar pada ILMA ini, Ali Audah memberi tanggapan:
“Gagasan mengenai anak sejak dini sudah mendapat pelajaran Al-Quran yang disertai gambar-gambar, tentu akan lebih menarik, lebih mengasyikkan, mudah diserap dan melekat dalam ingatannya. ‘Satu gambar lebih jelas daripada seribu kata,’ kata orang bijak. Wawasan anak pun akan berkembang sejalan dengan khayal pikirannya.”
Habib Rizieq, Ketua Umum FPI pun memberi beberapa pesan tentang penggunaan gambar ini:
“… penuh ilustrasi dan warna warni, tapi berbeda dengan komik-komik hiburan, saya yakin buku ini bisa membuat anak semakin cinta Al-Quran, asalkan Penerbit Mizan dalam penyajian ilustrasi tidak mengurangi kesakralan Al-Quran”
Dalam obrolannya dengan redaksi, Habib Rizieq menjelaskan apa yang dia maksud dengan “tidak mengurangi kesakralan”. Dia menjelaskan bahwa gambar-gambar itu janganlah menggambarkan hal-hal yang tidak pantas digambarkan, misalnya menggambarkan arasy dengan menggambarkan kursi atau menggambar ungkapan “Tuhan lebih dekat dengan urat nadi”, lalu digambarkan dengan ulat leher. Atau gambar-gambar yang tidak menunjukkan etika umat Islam, misalnya ketika menggambar wanita Muslimah, hendaknya selalu digambarkan berbusana Muslimah.
Sejumlah masukan ulama tersebut sangatlah berharga dan telah kami aplikasikan dalam proses penyusunan ILMA. Gambar-gambar nabi kami hilangkan; dan kami memastikan bahwa semua hal-hal abstrak, seperti surga, neraka, setan, jin, dsb. tidak kami gambarkan. Sejumlah gambar wanita Muslimah pun kami pastikan semua menggunakan busana muslimah, seperti yang disarankan Habib.

Tentang hukum penggunaan gambar sebagai media belajar, Dr. Yusuf Qaradhawi menyampaikan fatwanya:
“Walau bagaimanapun, jika saudara yang bertanya memiliki majalah tertentu yang mengandung unsur-unsur pengetahuan yang bermanfaat tetapi tidak ada di dalamnya yang hanya secara kebetulan, maka itu tidak menjadi kesalahan.” (diterjemahkan dari terjemah Malaysia, Fatwa Masa Kini, Jilid 3 & 4 by Dr. Yusuf Al-Qardawi. Penterjemah: Ustazah Rosmawati Ali, Ustazah Siti Zubaidah Ismail)
Jenis Gambar yang Digunakan pada ILMA
Jenis ilustrasi yang digunakan pada ILMA ini adalah jenis gambar vinyet, yaitu jenis ilustrasi yang berusaha mendenaturalisasi objek yang digambar. Menurut Isma’il Raji Al-Faruqi, dalam Atlas Budaya Islam, salah satu ciri seni Islam adalah karakter denaturalisasi. Berikut kami kutipkan dari tulisan Faruqi:
“Telah kami cirikan seni Islam sebagai seni yang menekankan abstraksi atau denaturalisasi dalam pemilihan dan pemakaian materi subjeknya.…” (Atlas Budaya Islam, h. 413)
Denaturalisasi pada seni visual Islam dilatarbelakangi oleh tradisi Islam yang menghindari penggambaran makhluk hidup secara utuh (persis seperti realitas aslinya). Hal ini berhubungan dengan pesan nabi tentang penggambaran makhluk hidup, yang konsekuensinya seorang yang menggambar dimintai untuk memberikan nyawa di hari akhir nanti. Denaturalisasi ini bisa dilakukan dengan mendistorsi bentuk atau meniadakan perspektif (kedalaman ruang), sehingga bidang menjadi terkesan flat, datar (2 dimensi), seperti contoh di samping ini.
Prinsip denaturalisasi yang sama juga dilakukan oleh Wali Songo yang berdakwah dengan menggunakan wayang kulit (bidang datar, tidak seperti patung yang memiliki 3 dimensi: panjang, lebar, dan tinggi).
Pendapat Masyarakat tentang Penyajian ILMA dengan Bahasa Visual

Selain meminta pendapat ulama, kami juga ingin mendengar suara “common sense” tentang cara penyajian ILMA ini. Melalui book advisor Mizan yang tersebar di sejumlah kota di Indonesia, kami pun mencoba mendengar pendapat masyarakat tentang ILMA. Kami memperlihatkan bentuk utuh dari beberapa halaman ILMA. Kami ingin mengetahui pendapat mereka, apakah menurut mereka bentuk penyajian ILMA ini dianggap “melanggar” atau dianggap “menurunkan kesakralan Al-Quran” atau mereka menganggap ini sebagai sebuah inovasi media belajar yang bermanfaat bagi anak-anak. Hasilnya, sekitar 700 responden yang terdiri dari berbagai kalangan masyarakat dengan berbagai latar belakang (yang tersebar di Jakarta, Bandung, Jogja, Semarang, Surabaya, Malang, dan Makassar) merespons positif. Tidak ada yang menganggap ILMA mengurangi kesakralan Al-Quran. Mereka menganggap ILMA sebagai sebuah media belajar yang bisa membantu mereka memperkenalkan pemaknaan Al-Quran sejak dini pada putra-putri mereka.
Sejarah Inovasi yang Dilakukan Umat Islam untuk Mempermudah Membaca dan Memahami Al-Quran
Kami juga sadar penuh bahwa inovasi yang kami lakukan bisa menimbulkan polemik. Namun, polemik terhadap sebuah inovasi memang telah terjadi berulang kali dalam sejarah Islam kita. Dalam tulisan berikut ini, kami mencoba memaparkannya.
Dari bentuk fisiknya (bukan substansinya), Al-Quran yang kita baca hari ini jauh berbeda dengan Al-Quran yang pertama kali turun pada masa Nabi. Umat Islam dari masa ke masa telah melakukan inovasi agar Al-Quran semakin mudah dibaca dan dipelajari. Dan yang perlu dicatat, setiap inovasi itu tidak begitu saja diterima. Selalu saja ada perbedaan pendapat. Ada yang menerima inovasi dengan argumen “demi kebaikan umat” dan ada yang menolak dengan alasan enggan melakukan apa yang tidak dilakukan Nabi (bid’ah). Berikut ini beberapa contoh kasusnya:
1. Pasca Perang Yamamah, banyak qari dan hafizh yang mati syahid. Keadaan ini membuat Umar r.a. khawatir akan hilangnya sejumlah ayat Al-Quran. Karena itu, beliau menghadap Khalifah Abu Bakar dan mengusulkan agar segera mengumpulkan ayat Al-Quran yang masih tersebar, baik dalam hafalan maupun tulisan, menjadi satu mushaf. Menanggapi usulan Umar ini, Abu Bakar didampingi Umar, meminta Zaid bin Tsabit untuk memimpin misi kodifikasi Al-Quran ini. Umar selalu mengatakan, “DEMI ALLAH, INI UNTUK KEBAIKAN”.
Dalam hadis Bukhari melalui sanad Ubaid bin Sabaq berikut ini, dijelaskan bahwa Umar terus meyakinkan Abu Bakar. Hingga suatu hari, Abu Bakar kembali meyakinkan Zaid, “Hai Zaid, engkau pemuda yang cerdas dan engkau dulu menulis wahyu di hadapan Rasul. Maka, carilah catatan Al-Quran dan kumpulkanlah!” Namun, Zaid menjawab permintaan Abu Bakar dengan berkata, “Demi Allah, kalaulah aku dibebani untuk memindahkan suatu gunung, tidaklah lebih berat dibandingkan dengan mengumpulkan Al-Quran. Hai Abu Bakar, bagaimana mungkin engkau melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Rasul?” Abu Bakar menjawab persis seperti jawaban Umar, “DEMI ALLAH, INI UNTUK KEBAIKAN”.
Selanjutnya, diceritakan dalam hadis bahwa Zaid mengatakan, “…setelah itu, Abu Bakar mengulang-ulang permintaannya sampai hatiku terbuka seperti halnya Umar. Dan aku mulai mengumpulkan Al-Quran…”.
Mengenai kasus ini, Abu Abdullah Az-Zanjani menulis, “… dari riwayat ini, jelaslah bahwa Abu Bakar takut melakukan apa yang belum pernah dilakukan Rasul karena sangat taatnya pada Nabi. Kemudian Umar berijtihad dengan mengatakan, “DEMI ALLAH, INI UNTUK KEBAIKAN”.
2. Kasus lain tentang inovasi pada Al-Quran terjadi ketika proses membubuhkan tanda i’rab (harakat) dan i’jam (titik yang membedakan antara huruf sin dan syin, ba, ta, tsa, dll.). Pada masa Rasul, Al-Quran ditulis menggunakan tulisan Arab tanpa syakal/harakat dan tanpa titik pembeda antarhuruf. Namun, hal itu sama sekali tidak bermasalah karena orang Quraisy memiliki kemampuan bahasa yang tinggi.
Namun, keadaan menjadi berbeda ketika Islam tersebar melampui daerah Arabia. Banyak orang non-Arab yang kesulitan membaca Al-Quran. Akibatnya, terjadi banyak kesalahan dan perbedaan cara membaca. Hal ini membuat Ziad bin Sumayyah, Gubernur Basrah, sangat khawatir. Lalu, dia meminta Abu Aswad Ad-Duwali untuk memberi harakat pada Al-Quran (Abu Aswad Ad-Duwali adalah seorang ahli nahwu murid Ali bin Abi Thalib). Namun, Abu Aswad Ad-Duwali menolak permintaan ini. Tidak dijelaskan secara pasti apa alasan penolakan Abu Aswad, namun ada kemungkinan penolakan ini memiliki alasan persis seperti penolakan Abu Bakar dan Zaid bin Tsabit, yaitu karena takut melakukan apa yang tidak dilakukan Rasul (bid’ah).
Pendirian Ziad, persis seperti pendirian Umar. Dia lebih melihat masalah ini dari sisi kemaslahatan umat seperti perkataan Umar kepada Zaid bin Tsabit dan Abu bakar, “DEMI ALLAH, INI UNTUK KEBAIKAN”. Karena demikian yakinnya Ziad terhadap keputusannya, Ziad sampai menggunakan “tangan besi” untuk memaksa Abu Aswad melakukan misi ini. Seperti diceritakan oleh Abdullah Az-Zanjani dalam kitab Tarikh Al-Quran “… kemudian Ziad memerintahkan seseorang untuk menghadang jalan Abu Aswad. Pada saat orang itu dekat dengan Abu Aswad, ia mengangkat suaranya keras-keras—agar suaranya didengar oleh Abu Aswad—kemudian membaca: Innallaaha barii-un minal musyrikiina wa rusulihi (seharusnya wa rasuluhu). Dengan pembacaan yang salah itu, ayat ini bermakna: Allah berlepas dari kaum musyrikin dan rasul-Nya”. Mendengar pembacaan yang salah ini, Abu Aswad terkejut dan berkata, “Bagaimana Allah berlepas dari Rasul-Nya?” Segera Abu Aswad menemui Ziad dan berkata, “Aku bersedia memenuhi permintaanmu …”.

Upaya mempermudah umat Islam membaca Al-Quran terus berlanjut hingga pasca masa Abu Aswad. Pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan, dua orang murid Abu Aswad, Nasr bin Asm Allaitsi dan Yahya bin Ya’mar Al-Adwani, memberi tanda titik untuk menghindari kesalahan membedakan huruf fa dan qa, atau zai dan ra, dst.
Tentang usaha dua murid Ad-Duwali ini, Az-Zanjani menulis: “Umumnya umat Islam pada waktu itu tidak menyukai kalau ada yang menambahkan sesuatu pada mushaf Utsman sekalipun untuk perbaikan.”
Tentang inovasi ini, kami juga meminta pendapat dari pakar Al-Quran, M. Quraish Shihab. Dalam sambutannya untuk ilma, beliau menulis:
“… memang kita semua—baik penerbit maupun pakar yang berkecimpung dalam PSQ—menyadari sepenuhnya bahwa penyajian Al-Quran dengan penuh warna ini merupakan sesuatu yang baru, dapat melahirkan diskusi dan respons yang beragam. Dahulu, Ibrahim bin Umar Al-Biqa’i (1406-1490) pernah menulis sesuatu yang baru pada masanya, yakni menyelipkan di sela-sela kalimat Al-Quran kalimat kalimat susunannya untuk memperjelas kalimat Al-Quran. Walaupun ulama besar itu membedakan penulisan antara kalimat Al-Quran dan penulisan kalimat susunannya, namun sementara ulama menolak idenya itu. Namun, pada akhirnya diterima juga, maka terbitlah buku tafsirnya bernama, Nadzm Ad-Durar fii Tanasub al-Ayat wa Suwar yang dinilai oleh para pakar sebagai ensiklopedia yang menjelaskan keserasian hubungan antarkalimat ayat-ayat dan surah-surah Al-Quran.”
Inovasi umat Islam untuk memuliakan Al-Quran terus berlanjut dengan bentuk beragam. Dari segi artistik, umat Islam terus berupaya menghiasi Al-Quran dengan ornamen dan iluminasi dengan corak yang sangat beragam. Seperti juga yang dilakukan umat Islam Indonesia dengan “Mushaf Istiqlal”, yang memuat iluminasi berdasarkan kekayaan visual tradisional Nusantara. Dalam segi pemaknaan, sejumlah ulama dari generasi ke generasi terus menghasilkan kitab-kitab tafsir. Salah satu tafsir yang menurut kami cukup berani melakukan terobosan adalah Tafsir Al-Jawahir karya Syaikh Thanthawi Jauhari. Selain menggunakan bahasa verbal, Thanthawi Jauhari juga menggunakan bahasa visual. Jika membaca kitab ini, kita akan menemukan banyak foto dan ilustrasi yang mengiringi setiap penjelasan terhadap suatu ayatnya.
Dari paparan tersebut, jelaslah bahwa selama berabad-abad umat Islam melakukan inovasi dalam memuliakan Al-Quran dengan membuat upaya-upaya agar umat lebih mudah membaca dan mempelajari Al-Quran. Teks-teks Al-Quran yang suci telah “berkolaborasi” dengan syakal, titik, tafsir, terjemah, iluminasi, dll. Semua itu dilakukan dengan tujuan kebaikan umat, seperti perkataan Umar kepada Abu Bakar dan Zaid bin Tsabit, “DEMI ALLAH, INI UNTUK KEBAIKAN”.

Inovasi-inovasi tersebut sama sekali tidak dimaksudkan untuk “mencampuradukkan Al-Quran dengan yang bukan Al-Quran” (Baihaqi dan Ibnu Mas’ud berpesan agar tidak mencampuradukkan Al-Quran dengan selain Al-Quran. Saran Baihaqi dan Ibnu Mas’ud ini, jika dilihat konteks kalimatnya adalah untuk menjaga kemurnian Al-Quran—baik dalam pembacaan maupun penulisannya—agar tidak tercampur dengan teks-teks non-Quran [lihat Al-Itqan, nau’ saadis wa sab’uun]).
Konsultasi dengan Para Ulama, sebagai Bentuk Kehati-hatian
ILMA adalah sebuah inovasi yang kami rumuskan dengan penuh rasa tanggung jawab dan kehati-hatian. Ini merupakan bentuk tanggung jawab agar umat Islam dapat melahirkan generasi Islam yang mencintai Al-Quran. Dalam prosesnya, kami pun sangat berhati-hati dengan berkonsultasi kepada sejumlah ulama. Lebih dari 20 ulama dari berbagai latar belakang, telah kami datangi untuk mendapat arahan dan nasihat di antaranya adalah: K.H. A. Mustofa Bisri, K.H. A. Hasyim Muzadi, Prof. Dr. A. Syafii Maarif, Prof. Dr. Dien Syamsudin, K.H. Shiddiq Amien, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, K.H. Didin Hafidudin, Habib Rizieq, dll. (daftar lengkap terlampir).
Kepada mereka, kami mempresentasikan ILMA sehingga mereka mendapatkan gambaran yang lengkap tentang buku ini. Kami mendapat banyak masukan dan arahan yang sangat berharga untuk proses penggarapan ILMA. Bahkan, Pusat Studi Quran (PSQ) yang dipimpin Ust. Quraish, menanggapi ILMA dengan sangat apresiatif. Beliau mengundang anggota Dewan Pakar PSQ dalam satu forum khusus untuk mendiskusikan ILMA. Pada forum itu, kami (dari redaksi) diminta untuk mempresentasikan ILMA, dan kami mendapat banyak masukan yang sangat berarti yang telah kami aplikasikan dalam ILMA ini. Berbagai apresiasi ulama tercermin dalam sambutan, kata pengantar atau endorsement yang mereka tulis (pengantar dan endorsement terlampir)
Dalam proses produksi pun kami menerapkan supervisi yang ketat dan berlapis untuk menghindari kesalahan. Khath Al-Quran telah melalui proses pemeriksaan hampir 15 kali pemeriksaan sampai dipastikan tidak ditemukan lagi kesalahan, lalu akhirnya kami serahkan ke lajnah pentashih Al-Quran Depag. Teks penjelasan kandungan ayat (pada bagian pinggir khath) diperiksa melalui tahapan yang berlapis pula. Selain diedit dan diproof oleh redaksi, kami pun meminta pembaca ahli untuk membaca secara detail dan memberi masukan serta arahan.
Demikianlah penjelasan yang dapat kami sampaikan. Dengan semua latar belakang, konsep, dan proses yang telah ditempuh seperti dijelaskan itu, semoga ILMA ini menjadi sumbangan berharga bagi umat Islam, khususnya bagi anak Islam agar mereka semakin mencintai dan mau mempelajari Al-Quran. Amin.
Wabillahi taufiq wal hidayah
Wassalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Irfan AmaLee
Editor Kepala ILMA
Dari berbagai sumber dan berkonsultasi dengan tim editor ahli:
K.H. Dr. Miftah Faridl; Dr. Afif Muhammad, M.A.;
Ir. H. Bambang Pranggono, M.B.A.
________________________________________________
Dapatkan ILMA dengan Harga Terbaik
Rp. 3.400.000
Rp. 2.720.000
disc. 20% untuk pembayaran tunai
Pembelian dari kota-kota berikut
Jakarta, Bogor, Bandung, Serang, Banten, Surabaya, Malang, Semarang, Solo, Yogya, Magelang
Gratis ongkos kirim, Pembayaran bisa dilakukan di rumah (COD Cash on Delivery) juga ada pilihan pembayaran secara angsuran hingga 12 bulan
Pembelian selain dari kota-kota tersebut diatas akan dibebankan tambahan ongkos kirim dan hanya bisa dilakukan dengan transfer tunai.
Info Lebih Lanjut silahkan Hubungi kami Klik disini…!!!
Tags :
gambar-gambar wanita islam yg bersahabat, nalar anak-anak allah, pemilik mizan menyatakan ayat dalam alquran tidak lengkap, pengertian ilmu tajwid menurut al raji, pusat studi quran, surah pendek al quran dan terjemahannya lengkap



