.jpg)
Author: Abu Fatih
Reference: At-Thariq Ilal-Quluub (Da’wah dan Hati)-Al-Ustadz Abbas As-Sissiy
Menghafal nama adalah penting, karena DARI SINILAH TERJADI INTERAKSI DAN LAHIR TSIQAH (SALING PERCAYA) SESAMA INDIVIDU. Ia merupakan langkah awal dan benang pertama yang mengikat hati individu. Ia adalah benang yang mengikat bola-bola kecil yang berserakan. Dan setiap orang akan merasa senang jika dipanggil dengan namanya, apalagi dengan nama yang paling ia sukai.
Termasuk sifat angkuh adalah seseorang yang masuk ke dalam rumah temannya, lalu disuguhkan kepadanya makanan, akan tetapi ia tidak mau memakannya, dan seorang laki-laki yang bersama dengan laki-laki lain dalam perjalanan akan tetapi ia tidak menanyakan namanya dan nama orang tuanya (Al-Hadits)
BEBERAPA METODE MENGHAFAL NAMA Tanamkan rasa ingin dan gemar menghafal nama orang lain Ketika sedang berkenalan, hendaklah sigap untuk menghafal nama-secara lengkap atau sebagian nama saja, lalu mengingat-ingat dan memakainya pada saat itu juga tatkala bercakap-cakap Perhatikan : wajah dan keadaannya, apakah ia berjenggot ? kacamata ? warna kulit ? suara ? bentuk tubuh ? kapan dan di mana perkenalan dilangsungkan ? Apa pekerjaannya ? Untuk memantapkan ingatan, catat nama-nama tersebut, dan setiap kali bertemu sapalah mereka dengan nama-namanya
“Kenali setiap orang dari saudaramu, meskipun ia tidak mengacuhkanmu. (Sebab) dasar da’wah kita adalah Al-Hubb (cinta kasih) dan At-Ta’aruf (saling mengenal)” (Imam Hasan Al-Banna)
KISAH
Suatu hari di tahun 1951, saya berada di kantor cabang Ikhwanul Muslimin di jalan Iskandarani, Iskandariyah. Lalu ada dua orang yang datang (rupanya mereka sedang janjian dengan seseorang). Saya menyambut kedatangan mereka dengan menyebut-nyebut nama mereka. Tatkala orang yang ditunggu-tunggu telah hadir, mereka berdua berkata kepadanya,”Kami belum mengenalnya sebelum ini akan tetapi ia sudah mengenal nama-nama kami.”
Kemudian saya diajak duduk bersama. Lalu saya berkata kepada keduanya,”Bukankah kalian berdua setiap pagi naik trem dari stasiun Rashafah?”
Keduanya menjawab,”Ya..”
“Saya juga setiap pagi naik trem yang sama”.
“Akan tetapi kami tidak melihat Anda bersama kami.”
“Karena saya memakai seragam militer.”
Keduanya teringat dan tersenyum, lalu berkata,”Bagaimana Anda mengetahui nama kami?”
“Saya mendengar salah seorang dari kalian berkata,”Selamat pagi,Muhammad.”
Lalu yang satunya menjawab,”Selamat pagi Ahmad.”
Keduanya lalu berkata,”Untuk apa Anda menghafal nama kami?”. Saya menjawab,”Jawabannya adalah yang terjadi saat ini…”
TABIAT DA’WAH KITA ADALAH SALING MENGENAL, DAN SAYA YAKIN BAHWA PADA SUATU SAAT, DA’WAH KITA AKAN MENGHIMPUN ORANG-ORANG YANG BERJIWA BAIK DAN BERKEPRIBADIAN MULIA. Kejadian di atas sangat membekas hati keduanya.
So, kalau kenalan dengan orang dan kemudian ngobrol, usahakan saat itu untuk memanggilnya dengan namanya, dan hindari menggunakan kata “Anda”,”kamu” ,”engkau” “you”, etc. Insya Allah ini akan lebih membekas.
Daripada bertanya “Anda sekolah di mana” atau “lu sekolah dimana” ?
Mending dengan : “Bang Fery sekolah di mana?” atau “Fery sekolah dimana” ?
No related posts.
